Kesenian Aljin

4 12 2008

Di lingkungan kehidupan masyarakat Blambangan terdapat semacam kebiasan seni baca yang dikenal dengan istilah “mocoan”. Kebiasan ini terdapat juga di berbagai daerah di Indonesia yang lain seperti jawa, madura, bali dan sebagainya, namun di daerah Blambangan seni baca ini berkembang secara sendiri.

Kesenian ini dimainkan oleh 7-8 orang dalam sebuah grup. Diiringi dengan kendang, biola, gong dan kluncing. Kesenian ini akrab ditemui di Desa genteng kolon, kecamatan Genteng kabupaten Banyuwangi. Semua tehnik pelaksanaan seni membaca ini sama dengan pelaksanaan “Mocoan” dalam bentuk aslinya, yaitu membaca dengan mengunakan irama lagu mocopat seperti kasmaran. Arum –arum, derma, pangkur, Sinom, dan sebagainya dengan melakukan menurut versi Blambangan. Pada bagian ini yang masih bentuk lontara, pada umumnya mempergunakan naskah lontar Yusuf, yang penyelenggaranya dilakukan dari jam 21.00 sampai 24.00, setelah itu baru dilakukan bentuk permainan yang dikenal dengan “Paculan’. Tentang istilah paculan semula berasal dari bentuk olok-olok, sambutan, atau singungan pasangan lain.biasnya bentuk olok-olok tersebut bersifat menggelikan atau dikenal dengaaaan istilah ”Macul”. Bentuk paculan hakikatnya adalah berupa basanan atau parikan atau pantun-pantun atau lawak-lawakan, yang untuk memulai bagian ini biasanya didahului para penonton “paculan wis” maksudnya menyuruh kepada pemain agar segera melakukan olok-olok aaaaatau gecul diantara mereka dengan aturan permainan tertentu disamping disajikanya lagu-lagu atau gending dengan gerak gecul.

Kelompok kesenian ini pada awalnya dipimpin oleh seorang yang bernama Aljin sehingga masyarakat menyebut juga kesenian ini dengan kesenian Ajin.

Angklung Caruk

Yang dimaksud dengan istilah caruk adalah pertemuan antara dua unit angklung mengadu ketangkasan membawakan gending. Caruk sendiri dalam bahasa Banyuwangi berarti bertemu.Dalam peristiwa caruk ini biasanya mendapat sambutan yang hangat dari penonton.Penonton biasanya terbagi menjadi tiga kelompok, satu kelompok memihak lepada yang satu kelompok kedua memihak kepada kelompok yang kedua . Sedang kelompok yang ketiga hanya sebagai pnonton yang netral.

Tentang bentuk Angklung tersebut sampai sekarang sudah mengalami perubahan perubahan antara lain pada perkembangan awal angklung tersebut terdiri dari bilah bilah penahan bambu yang diatur diatas plangkan mirip dengan pengaturan bilah bilah gambang pada gamelan Jawa.inilah yang disebut tingklik.

Namun pada perkembangan berikutnya untuk bilah bilah tersebut dipergunakan ruas ruas bambu yang dpotong miring, kemudian diatur dalam kerangka plangkan kayu dan diikat dengan talidengan posisi miring dari arah pengukur, karena plangkannya dibuat rendah maka dudukannya pun agak rendah.Kemudian karena unit inisering di “Carukkan” (diketemukan)

Dalam permainan gending gendingnya biasanya diikuti oleh seorang Badut?Badut yang selalu menari mengikuti irama gending gending yang sedang dimainkan dengan gerak gerak spontanitas dan kadang kadang diikuti juga dengan gerak gecul sehingga suasana permainan menjadi hidup.

Baca Artikel Berikutnya :

l Wisata Banyuwangi

l Welcome Banyuwangi

l Kesenian Seblang

l Seni Gandrung

l Sejarah Banyuwangi

l Sepintas Banyuwangi


Tindakan

Information




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.